Diary perjalanan KKL-ku


Hello semua, disini saya akan menceritakan perjalanan dan pengalaman KKL saya di Madura - Surabaya - Blora - Semarang. Let's get started..


Hari Pertama (Rabu 6 Desember 2017)

Tahun ini Pendidikan Sosiologi angkatan 2016 melaksanakan KKL dengan tujuan  Kampung Kamal, Kampung Batik, Ex Gang Dolly, dan Suku Samin. Dan perlu dikatuhi, selama KKL ini kita live in. Kita tidak menginap di penginapan maupun hotel, supaya kita berbaur dengan masyarakat sekitar.
KKL dimulai dari tanggal 6 Desember 2017. Kebetulan kos-kosan Vivi dekat dengan rumah saya, maka kami memutuskan untuk berangkat bareng. Setelah sholat maghrib, saya berangkat dengan Vivi menggunakan go-car untuk menuju ke halaman Rektorat. Sesampainya disana sudah banyak teman teman yang berkumpul. Awalnya, saya kira yang membawa bawaan seperti mau mudik hanya saya. Ternyata banyak teman-teman saya yang membawa bahkan lebih besar kopernya dibandingkan saya. Ada yang membawa koper, tas jinjing, tas gendong, dan tidak lupa yang semuanya wajib bawa adalah bantal leher. Sebelum berangkat, saya dan teman-teman menyempatkan untuk berfoto. Kali ini, kami nenggunakan biro CV. Mutiara Tour. Dan menggunakan dua bus. Bus satu digunakan untuk kelas A dan bus dua untuk kelas B. Disetiap bus ada tour leader dan tim kesehatan. Setelah semua berkumpul, semua masuk busnya masing-masing dan mencari tempat duduk yang nyaman. Dan saya duduk dengan Santika di bagian nomor 3 dari belakang. Oh iya, Bu Aris juga ada di bus kita lho dan duduk di depan sama Mayang hehe. Setelah semua siap, kami berangkat sekitar pukul 20:00 WIB. Perjalanan dimulai lewati Magelang.
Sepanjang jalan berangkat, di bus 1 diwarnai dengan karaoke dari mulai lagu pop sampai dangdut. Memang kelas kami itu sebagian besar suka bernyanyi dan sebelumnya memang sudah di prepare untuk memutar lagu dari flashdisk. Sepanjang jalan berangkat kita semua berdendang menikmati lagu. Sekitar pukul 23:00 kami semua terlelap.


Hari Kedua (Kamis 7 Desember 2017)

Paginya kita berhenti di pom bensin untuk sholat subuh. Lalu kita melanjutkan perjalanan ke Madura. Jam 07:30 kami sampai jembatan Suramadu. Karena baru pertama kali lewat, kami langsung mengabadikan moment foto dan tidak lupa membuat snapgram. Saya sangat menikmati selama melewati jembatan Suramadu. Jembatam ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia yang menghubungkan pulau Jawa (di Surabaya) dan pulau Madura (di Bangkalan). Jembatan ini memiliki panjang 5.438 m. Perjalanan kami disini ditemani oleh 5 mahasiswa dari UNESA yang akan membantu dan menjadi guide kami dalam observasi di Madura dan Surabaya.

Jembatan Suramadu

Setelah itu, kurang lebih 30 menit dari jembatan Suramadu, kami berhenti di rest area “Ola Oleng”. Begitu sesampainya disana saya langsung mandi dan sarapan. Karena jumlah kamar mandi hanya sedikit, maka kita langsung bergegas ambil barang dan bergegas untuk mandi. Sesampainya di kamar mandi, ternyata kamar mandi untuk wanita penuh, langsung saja saya segera bergegas untuk ke kamar mandi untuk pria. Karena sudah antre duluan, akhirnya saya mandi pertama. Entah kenapa, memang suhu udara di Madura itu sangat panas, waktu setelah selesai mandi rasanya tetap saja panas dan wajah terasa panas. Ternyata benar setelah teman-teman selesai mandi, mereka mengeluh bahwa wajahnya terasa panas. Mungkin adaptasi udara, karena memang sangat berbeda suhunya.

Kampung Kamal

Setelah semua selesai dan bersiap-siap kami menuju kampung kamal. Sesampainya di kampung kamal kami langsung observasi. Pertama kelompok saya mewawancarai penjual pakan burung. Namanya Pak Bayu. Pak Bayu ini sudah membuka usaha berjualan pakan burung sudah sejak lama. Dan Pak Bayu ini asli kampung Kamal. Kami bertanya kepada Pak Bayu perubahan apa saja yang terjadi setelah jembatan suramadu dibangun. Yang sangat-sangat terlihat disini adalah mata pencaharian terbesar di kampung Kamal ini hilang. Karena yang dulunya sebagian besar warga kampung Kamal bekerja sebagai tukang becak, kernet kamal, penjaga tiket penyebrangan, itu semua sudah tidak ada lagi semenjak jembatan suramadu dibangun. Pendapatan warung-warung pinggiran pelabuhan juga sangat menurun drastis. Tetapi memang ada dampak positifnya bagi warga, karena memudahkan akses jalan ke Surabaya, tidak perlu menyebrang menggunakan kapal tetapi sudah bisa dilalui dengan menggunakan kendaraan pribadi. Setelah selesai mewawancarai Pak Bayu, kami mewawancarai bapak-bapak yang sedang duduk-duduk di pinggir pelabuhan tentang perubahan yang terjadi dan menurut bapak-bapak ini peran pemerintah untuk menanggulangi keadaan ekonomi memang belum kelihatan bentuk konkretnya.

Setelah mendapatkan dua narasumber kami langsung bergegas kembali ke balai desa.  Kebetulan waktu itu ada dua bapak-bapak yang sedang bercengkrama di depan balai desa, lalu kami menghampiri bapak-bapak tersebut dan kembali menanyakan hal serupa, tentang perubahan. Ternyata setelah memperkenalkan diri beliau adalah kepada kepala desa Kampung Kamal yaitu, Pak Sulistyo. Kami menanyakan seputar perubahan yang terjadi di Kampung Kamal dari berbagai aspek. Lalu kami malah diceritakan secara detail tentang asal-usul, tradisi yang berkembang, kesenian, dan peran pemerintah. Dulunya kampung kamal ini memang sebuah kampung yang sangat ramai dan padat karena pelabuhan penyebrangannya. Bahkan ketika lebaran antrian kendaraan yang akan menyebrang bisa sampai 1 km. Tetapi memang setelah dibangun jembatan suramadu, kampung Kamal ini menjadi sebuah kampung yang seolah-olah mati. Sekarang ini kapal yang berfungsin hanya 3 sampai 4 kapal. Selain itu kapal-kapal tersebut hanya ‘numpang’ parkir. Ternyata pemerintah sudah mengupayakan adanya perbaikan kondisi ekonomi Kampung Kamal. Tetapi memang belum 100% terealisasikan karena terhalang beberapa kendala, yaitu biaya dan tenaga penggerak. Salah satu yang diupayakan pemerintah adalah pembangunan desa wisata di kampung Kamal. Yang masih melekat sampai sekarang itu perkataan Pak Sulistyo kepada kami “Kuliah yang pintar, kalau sudah pintar nanti jangan lupa balik kesini ya. Kampung Kamal sangat butuh mahasiswa seperti kalian. Siapa tahu salah satu dari kalian bisa jadi pemerintah disini.” ujar beliau sambil tersenyum. Setelah itu semua kelompok kembali ke balai desa untuk makan siang dan sholat dzuhur. Makan siang di balai desa ini, kami disediakan makan khas dan minuman khas Kampung Kamal.

Kondisi pelabuhan di Kampung Kamal waktu kami berkunjung

Kampung Batik

Setelah berpamita, sekitar jam 13:20 kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Batik. Kampung Batik ini terletak di Desa Paseseh, Kecamatan Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan, Madura. Disana kami disambut disalah satu tempat pengrajin terbesar di Kampung Batik ini. Setelah memasuki rumah tersebut kami disambut sangat baik. Dari pertama kali masuk sudah banyak gentong yang berjejer di samping rumah.

Batik di Kampung ini identik dengan batik madura dan terkenal dengan batik gentongannya. Batik gentongan itu sebenarnya proes pewarnaan. Untuk mendapatkan warna biru. Warna biru ini didapatkan dari pohon tarom. Warna biru menurut orang-orang tanjung bumi itu unik karena untuk mendapatkannya memang melalui proses yang panjang. Karena unik, warna biru ini jadi punya perlakuan khusus. Warna biru ini, jika terkena matahari langsung akan rusak. Sehingga orang tua dulu itu untuk mendapatkan warna biru dimasukkan kedalam gentong yang kedap cahaya. Setelah dijelaskan proses-prosesnya, kita berkesempatan untuk melihat proses pembuatan batik gentongan dan melihat koleksi-koleksi batik. Batik disini beragam harganya dari harga Rp.75.000 bahkan ada yang sampai jutaan. Sebenernya banyak sekali yang unik dan menarik dari Kampung batik ini. Tetapi karena keterbatasan waktu supaya kita bisa sampai di ex. Gang Dolly dengan tepat waktu akhirnya kami segera bergegas pulang dan langsung menuju ke Surabaya.

 
Berfoto di sebagian koleksi Batik Gentongan

Ex. Gang Dolly

Setelah berpamitan dan berfoto bersama, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Surabaya. Kami kembali melewati Jembatan Suramadu, dan sangat indah ternyata jika malam hari. Sekitar kurang lebih pukul 22:00 kami sampai di area ex. Gang Dolly. Tetapi terjadi beberapa tragedi, yaitu bus kami ternyata tidak bisa sampai ke perempatan jalan, karena jika dilanjutkan, bus kami menabrak kabel listrik. Akhirnya setelah berdisuksi antara panitia adan pihak biro, kami akhirnya harus berjalan kaki. Akhirnya kita membongkar bawaan di pinggir jalan, dan membawa baju ganti secukupnya. Dan akhirnya kami berjalan kaki sekitar satu kilometer. Sungguh pengalamn yang tidak bisa dilupakan dan ini yang membuat saya sempat deg-degan karena akan menuju tempat yang sangan sensitif.

Setelah berjalan satu kilometer, sampailah kami di gang Putat Jaya, disana kami langsung disambut di balai. Karena semua sudah kelelahan, akhirnya langsung dibagi tempat tidurnya. Saya kebetulan mendapatkan rumah nomor 1 bersama dengan Septi, Zila, Nina, Cheni, dan Devi, yaitu rumah Ibu Mujiyanti. Mungkin berbeda dengan teman-teman yang lainnya, rumah Ibu Mujiyanti ini masuk kedalam gang kecil. Rumah ini sangat-sangat minimalis. Hanya terdapat 2 kamar dan ruang depan seadanya. Dan ternyata kamar mandinya terletak di belakang, dan tidak berpintu hanya ditutup dengan kain korden. Dan kamar mandinya juga tidak ada wc-nya. Setelah sesampainya disana, kami langsung bersih-bersih. Setiap ada yang mau mandi, pasti harus ditunggu oleh salah satu teman, karena kondisi kamar mandi yang tidak berpintu dan penerangan seadanya, dan ternyata jika dilihat dari ujung gang sangatlah jelas. Setelah bersih-bersih kami makan malam ala kadarnya yaitu dengan soto ayam. Dan langsung tidur karena memang kondisi badan sangat capek. Kebetulan malam itu Septi dan saya tidak bisa tidur sampai kurang lebih jam 03:00 karena memang kondisi rumah seperti itu membuat kita sangat asing. Tapi saya tetap berusaha tidur, dan waktu terdengar suara adzan saya bangun dan bergegas langsung mandi bergantian dengan septi.

Hari Ketiga ( Jumat 8 Desember 2017)

Pagi harinya, saya, septi, dan zila keluar dari rumah dan mencoba melihat keadaan diluar. Ternyata gang dolly hanya berjarak 500 meter dari gang yang kami tempati. Lalu kami bertanya-tanya tentang perubahan apa saja yang terjadi, bagaimana tanggapan masyarakat tentang penutupan Gang Dolly. Dan sepanjang gang itu dulunya berdiri club-club yang menyediakan para pekerja seks. Kini sudah beralih menjadi bangunan-bangunan biasa. Ada beberapa club terbesar yang kini beralih fungsi menjadi lapangan futsal, tempat rekreasi, dan tempat industri rumah, bahkan dengan masyarakat dibangun meseum dolly untuk menjadikan Gang Dolly sebagai wisata. 
Setelah berjalan-jalan, kami kembali kerumah untuk sarapan, kami sarapan menggunakan nasi pecel khas Surabaya. Oh iya, jadi Ibu Mujiyanti ini mempunyai 4 anak, 1 anak perempuan kandung dan 3 anak yang diangkat dan dirawat oleh Ibu Mujiyanti. Ya memang keadaan rumah yang kami tempati tidak selayak teman-teman yang lain. Tapi kami mendapat pelajaran berharga dari Aurel, salah satu anak angkat Ibu Muiyanti.
 
“BARBARA” Wisma terbesar di Gang Dolly
Setelah berpamitan dan foto bersama, kami dari gang Putat Jaya menuju tempat waktu itu bus berhenti menggunakan angkot. Pukul 10:00 kami berangkat menuju masyarakat Suku Samin di Desa Sumber, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora yang memakan waktu kurang lebih 7 jam dari Surabaya. Karena hari jum’at, kami berhenti di daerah magetan untuk yang laki-laki sholat jum;at dan yang perempuan makan siang lalu sholat dzuhur. Setelah itu semua berkumpul di serambi masjid untuk membahas beberapa masalah yang terjadi sebelumnya. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan.
Kurang lebih pukul 17:00 kami sampai di Desa Sumber. Sesampainya disana kami disambut oleh perangkat desa di gedung serbaguna Desa Sumber. Disana kami dijelaskan secara singkat oleh bapak kepala desa dan kepercayaannya yaitu Pak No. Setelah dijelaskan kami makan malam dan sholat maghrib. Dan langsung menuju ke Dusun Tambak. Setelah sampai di ujung jalan, kami masuk dengan berjalan kaki. Karena waktu itu cuaca gerimis, sehingga saya dan teman teman berjalan dengan terengah-engah, dan kedinginan.
Kebetulan rumah yang saya dan teman-teman berada di paling ujung, sesampainya disana kami disambut dengan hangat, lalu dihidangkan berbagai masam makanan ringan, ada kacang, pisang, peyek, tidak lupa teh hangat. Setelah memperkenalkan diri, kami mulai berbincang-bincang dan menanyakan hal-hal yang membuat kami penasaran. Ditengah-tengah berbincang, pak kepala desa datang dan ikut ngobrol dengan kita. Pak Kepala desa ini sangat gaul lho ternyata, hehe. Setelah selesai berbincang-bincang kami mulai mandi satu persatu bergantian. Setelah semua mandi, kami disediakan makan malam, semua yang ada di dapur dihidangkan oleh mak dan yung. Walaupun menunya sederhana telur dadar, sayur lodeh, soto, sambel, dan kerupuk, tetapi rasanya sangat nikmat. Sekitar jam 22:00 kami tidur. Disini saya merasakan tidur dirumah dan sangat nyaman suasananya.
Hari Keempat ( Sabtu 9 Desember 2017)

Pagi harinya, saya bangun paling awal, lalu bergegas mandi. Sehabis mandi, saya keluar menikmati udara pagi. Ternyata begitu keluar, saya langsung disuguhkan oleh pemandangan sawah yang terbentang dan cuacanya sangat sejuk. Rasanya damai sekali, sudah jarang di kota menemukan suasana seperti ini. Tidak lupa saya mengabadikan moment ini. Setelah selesai mandi, kami disediakan sarapan, menu sarapan pagi kali ini adalah mie goreng, urap, tempe goreng, bakwan jagung dan kerupuk. Sarapan kali ini benar-benar sangat nikmat walaupun menunya sederhana.
Pukul 10:00 kami berpamitan lalu berfoto bersama dengan mak dan yung. Sebenarnya masih sangat ingin berlama-lama disini. Karena waktu itu kebetulan suami dari yung yang kami tempati itu baru saja seminggu yang lalu meninggal, sehingga waktu itu yung sangat senang kita datang. Waktu pamitan rasanya sedih sekali. Dari sedulur sikep ini, saya banyak belajar tentang kesederhanaan mereka, berbagai nilai-nilai kehidupan yang diterapkan dalam setiap tindakannya. Bahkan mereka tetap mempertahankan tradisi di tengah era globalisasi seperti ini. Karena menurut mereka, hidup itu harus sabar, ngalah, nerimo, rukun, ojo srei, lan ora drengki. Ini menjadi nilai yang melekat dalam kehidupan mereka. Dan juga mereka selalu menerapkan pemikiran yang positif yang patut ditiru oleh masyarakat Indonesia.
 Foto bersama Yung dan Mak
 Foto bersama “Sedulur Sikep”
Setelah berpamitan, kami langsung menuju Sam Poo Kong. Sesampainya disana, kami disambut oleh gerimis, sehingga kami harus memakai payung untuk berjalan-jalan. Disana kami menikmati dan mengabadikan berfoto di klenteng dan di dekat patung Laksamana Cheng Hoo. Tidak lupa kami menyempatkan foto satu kelas. Setelah puas berkeliling, kami lanjut ke pusat oleh-oleh.
Karena memang dari rumah ibu sudah berpesan, kalau beli oleh-oleh di Semarang tidak usah beli bandeng. Karena kebetulan bulan lalu kami sekeluarga baru saja berlibur ke Semarang. Sesampainya di pusat oleh-oleh, saya sebenarnya bingung mau membeli apa, dan akhirnya saya memilih wingko babat untuk oleh-oleh. Ketika semua sudah puas berbelanja kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Yogyakarta.
 
Menyempatkan Foto bersama satu kelas di Sam Poo Kong
Perjalanan pulang ini kami manfaatkan untuk istirahat, karena memang perjalanan selama 4 hari sangat menguras tenaga. Pukul 22:00 kami sampai di halaman Rektoran dengan selamat dan disambut oleh hujan yang deras.
Banyak pengalaman dan cerita selama 4 hari tersebut, dan tentunya sangat berkesan. Terimakasih kepada seluruh panitia, ibu dosen, dan pihak biro yang telah berusaha semaksimal mungkin untuk KKL tahun ini.
 Terimkasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca. Semoga bermanfaat. Maaf kalau masih banyak kurangnya, hehe.

Komentar