Keunikan Pembuatan Batik di Desa Paseseh, Kecamatan Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan, Madura.
Batik merupakan salah satu karya dan warisan Indonesia yang sudah terkenal. Hampir disetiap daerah di Indonesia memiliki sentra kerajinan batik. Yang paling banyak terutama berada di Pulau Jawa dan sekitarnya. Sentra kerajinan batik sendiri menjadi wisata budaya yang banyak dijadikan destinasi oleh para wisatawan baik yang dari dalam negeri maupun luar negeri sendiri.
Oh iya, perkenalkan nama saya Fitri Utami Nurul Latifah, disini saya membahas keunikan pembuatan batik Tanjung Bumi. Batik yang ada di desa ini terkenal dengan batik gentongannya. Banyak simpang siur diluar sana, bahwa mitos yang beredar di masyarakat setempat mengatakan bahwa ketika proses pengangkatan batik dalam gentong tidak boleh terdengar kabar orang meninggal karena akan mempengaruhi warna batik menjadi memudar. Tetapi setelah bertemu dengan Pak Ali beliau ini salah satu pemilik sentra batik di Tanjung Bumi. Setelah itu beliau menceritakan bahwa kabar tentang gentongan itu ternyata tidak benar. Kabar ini bisa beredar karena ternyata memang yang memasarkan batik gentongan ini memang bukan orang Tanjung Bumi asli, mereka hanya pembeli borongan yang membeli di Tanjung Bumi. Agar batik tersebut laku, maka cerita tersebut dibuat.
Tetapi memang pembuatan batik gentongan ini sangat unik. Gentongan itu sebenarnya proes pewarnaan. Untuk mendapatkan warna biru dari batang pohon tarom. Warna biru menurut masyarakat itu unik. Sehingga untuk mendapatkan warna yang unik tersebut maka pewarnaan untuk mendapatkan warna biru itu punya perlakuan khusus. Karena warna biru ini jika kena matahari langsung akan rusak, makanya orang-orang dulu itu memasukkan kain ke dalam gentong yang kedap cahaya, dimana di dalam gentong tersebut sudah berisi extra dari pohon tarom.
Selain itu, ternyata setiap kain batik yang ada di Tanjung Bumi ini tiap tahapan pembuatannya, yang mengerjakan orangnya beda-beda. Dari mulai tahap reng-rengan atau menggambar pola dengan media malam. Selain itu yang unik dari menggambar reng-rengan ini, biasanya jika batik jogja, pekalongan, solo, dan lain-lain menggambar pola tersebut menggunakan pensil terlebih dahulu, tetapi orang-orang Tanjung Bumi langsung memakai malam. Karena memang tinggal di daerah pesisir, dan mempunyai kecerdasan spasial yg luar biasa jadi mereka bisa menempatkan objek sesuai dengan bidangnya. Selanjutnya isen-isen atau membuat gambar detail, lalu menggaris pola, tanahan yaitu melengkapi dari bidang yang kosong, lalu di gambar juga orangnya berbeda. Dan juga pemberian nama motif batik, orang-orang tanjung bumi memberikan nama tidak pada filosofi, tapi karena orang tanjung bumi itu kebanyakan memberikan nama dengan gaya ceplas ceplosnya. Contohnya jangkar asmara, fielfi, dan tilcantil. Tilcantil disini artinya sebuah komitmen.
Batik Tanjung Bumi ini tidak ada istilah batik khusus yang boleh dipakai oleh orang bangsawan, semua jenis batik dan motif disini boleh dipakai siapa saja.
Selain itu orang-orang Tanjung Bumi ini bersifat sangat terbuka, tetapi tetapi sangat menjaga tradisi. Salah satu cara untuk menjaga tradisi disini adalah tidak ada batik cap dan tulis. Bahkan tahun 80an ada bantuan cap dari pemerintah, itu ditolak oleh masyarakat tanjung bumi.
Bagaimana? Semoga semakin penasaran dengan batik dari desa Paseseh, Kecamatan Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan, Madura. Yuk berkunjung kesana :)
Salah satu motif yang khas


Komentar
Posting Komentar